Oleh: ahmaddarwistohari | 27 Januari 2010

Ma’ul Hayat

Suasana damai menyelimuti pesantren itu. Indahnya pegunungan menambah damainya pesantren yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuknya duniawi. Gemericiknya air  di depan pesantren menambah indahnya suasana pesantren dan seakan melambangkan semangat dan kemurnian para santri dalam menggapai ilmu. Sejuknya udara pegunungan mengisaratkan kesejukan batin para penghuni pesantren.

Temaram sang surya seakan memanggil seluruh penghuni pesantren untuk bergegas menuju mushola untuk melakukan rutinitas di pesantren, yaitu bejama’ah sholat maghrib. Seperti biasanya, Kyai Bashit , berkeliling pesantren sambil terlihat mulutnya komat-kamit melafadzkan dzikir meskipun tak terdengar bacaanya, namun sang kyai sambil menggendongkan tanganya di belakang tubuhnya dan tak henti-hentinya jemarinya memutarkan tasbih kesayangannya.

Ketika sang surya beranjak menuju peraduannya dan kumandang adzan maghrib terdengar dari dalam mushola pesantren, bergegaslah seluruh penghuni pesantren menuju mushola, tentunya Kyai Bashitpun bergegas menuju mushola dan sholat sunat dua roka’at ba’diyatal adzan. Seperti biasanya, Kyai Bashit memimpin sholat berjama’ah dengan lantunan bacaan ayat suci yang terdengar indah, meskipun terasa seakan parau yang seakan mengisyaratkan usia Kyai Bashit menginjak tahun yang ke delapan puluh.

Namun tidak seperti biasanya, pada malam itu pengajian rutin di pesantren diliburkan. Seusai berjama’ah, sambil duduk di pengimaman mushola dan menghadap ke seluruh santri , Kyai Bashit dengan penuh kharisma menyampaikan ma’lumatnya dan tausiyahnya kepada seluruh santri dipesantren itu. “Assalamu’alaikum waroh matullahi wabarokatuh” pembukaan Sang Kyai dalam tausiyahnya’ sambil menggeser tempat duduknya kearah santri dan membenahi sorbannya yang hampir jatuh. Seakan dikomando dan seluruh santri kompak menjawab salam dari Sang Kyai. “Konco-konco santri, besok pagi akan kita adakan musabaqoh di pesantren ini ” imbuh Sang Kyai. Dengan penuh rasa hormat dan ta’dzim, seluruh santri menyimak tiap kalimat yang terucap dari mulut Kyai. ” Barang siapa yang mampu mengikuti batu yang aku gelindingkian, akan mendapatkan anugrah yaitu Ma’ul Hayat” jelas Kyai Bashit.

Suasana pesantren pada malam itu terasa hangat, meskipun cuaca mendung dan dinginnya udara malam telah menggerayangi tubuh apalagi  secara geografis letak pesantren di daerah pegunungan, seakan tidak mempengaruhi semangat para santri untuk mengikuti lomba yang akan diadakan oleh Kyai. Diskusi kecil di sudut-sudut pesantren tentang kesiapan setiap para santri untuk mengikuti dan memenangkan lomba seakan menggairahkan dan menghidupkan malam itu. “Kayaknya aku yang mampu memenangkan lomba Kyai” ucap Irham dengan sedikit jumawa, maklum Irham adalah santri senior dan sedikit lebih pintar dibanding santri yang lain. “Tidak segampang apa yang kau kira” sanggah Deden.  Tak kalah PDnya , dari kejauhan Imron menyahut dan menyela ” Bukan kamu yang jadi pemenang dalam perlombaan nanti, yang pasti akulah pemenangnya” sergap Imron.

Dibawah pohon duren depan pesantren, Slamet merenung dan sedikit ada rasa sedih menggelayuti hatinya.  Maklum saja, Slamet adalah santri yang banyak tertinggal dalam keilmuan dan cenderung bodoh dibandingkan teman-temannya di pesantren. ” Apa mungkin aku bisa mengikuti lomba yang diadakan Kyai apa lagi memenangkan ” gumam Slamet sendirian. Namun disela lamunannya, Slamet tersentak ingatannya ketika pertama kali dipesantren “Keinginan yang kuat, mampu merobohkan gunung” terang Kyai kala itu.

Keesokan hari, ketika Kyai Bashit selesai sholat Dhuha, sekira matahari telah menghangatkan tubuh dan embun pagi telah mulai kering, para santri berkumpul di halaman pesantren menunggu dengan sabar  mulainya lomba yang diadakan oleh Kyai Bashit. Dengan mengenakan sorban di pundaknya, Kyai Bashit sambil membawa bungkusan kain hitam yang terlihat berat di tangannya, Kyai Bashit menuju kerumunan santri yang menunggu acara lomba sedari tadi. “Konco-konco santri, gimana sudah siap? ” tanya Kyai Bashit sambil mengeluarkan bungkusan kain hitam. ” Semua santri boleh mengikuti lomba ini” imbuh Kyai seraya menjelaskan keterangan  kemarin malam usai jama’ah sholat maghrib.

Searah dengan jalan yang menurun, dan memang letak pesantren di daerah pegunungan, Kyai Bashit menganbil batu yang sengaja disimpan dalam bungkusan kain hitam, “Siapa yang mau ikut lomba?’ tanya Kyai ke seluruh santri sambil mengangkat batu yang telah diambil. ” Saya Kiyai” Saut Irham. “Siap ya!” aba-aba Kyai sambil menggelindingkan batu yang berbentuk seperti bola. Dengan cekatan Irham mengikuti arah batu yang digelindingkan Kyai.   Seperti kebiasaannya dan dengan gayanya yang ogal-ogalan maklum memamg Irham tergolong santri yang cerdas , Irham kehilangan arah batu yang menggelinding ketika disapa oleh Munjiat. ” Mau kemana Mas Irham ?” tanya Munjiat yang lagi menggendong anaknya didepan rumah. ” Mau ngikuti batu yang digelindingkan Kyai” timpal Irham pada Munjiat yang letak rumahnya dipinggir jalan yang dilewati batu tersebut. Tak disadari oleh Irham,  ketika Irham menoleh kearah Munjiat sembari menjawab sapaan, batu terus menggelinding kebawah dan tidak diketahui kemana arah batu tersebut. Seusai menjawab pertanyaan dan sapaan Munjiat, tersadar oleh Irham untuk mengikuti arah batu, namun ketika akan meneruskan perjalanannya batu sudah tidak nampak lagi.

Keesokan harinya, lomba digelar kembali oleh Kyai Bashit. Seperti hari sebelumnya, seluruh santri berkumpul di depan pesantren sambil menunggu Kyai Bashit selesi sholat Dhuha. Seusai Kyai Bashit sholat dhuha, lombapun dimulai. Tidak kalah semangatnya, Imron yang biasa dipanggil Jaipong oleh teman-temannya menyodorkan diri untuk mengikuti lomba. “Jaipong, Jaipong, Jaipong…….” teriakan temannya untuk menyemangati.  Dengan sedikit kocak dan konyol “Aku bisaaa………” teriak Imron sambil mengangkat tangannya dan berjalan menuju batu yang akan digelindingkan Kyai sambil menbenahi sarungnya yang akan jatuh. Ketika aba-aba siap dan batu telah digelindingkan, Imron mengikuti arah batu yang terus menggelinding kebawah tanpa kompromi. Namun ketika  di kelokan tajam dan sedikit menurun, Imron berpapasan dengan Saipul yang baru pula dari sawah. Dengan kocaknya, Imron menggoda Saipul yang keberatan memikul rumput di pundaknya. Tanpa disadari oleh Imron, batu yang diikutinya menggelinding dengan pesat dan tidak mempu terkejar lagi.

Seperti halnya Irham, Imron , Dedenpun mengikuti lomba yang diadakan oleh Kyai Bashit, namun ia gagal dan tak mampu mengikuti arah batu menggelinding. Kala itu Deden kehilangan jejak kemana arah batu menggelinding ketika Deden disapa oleh Trialis gadis kembang desa. “Tumben Mas Deden sendirian?” tanya Trialis seraya menggoda. ” Habisnya kamu nggak mau nemani aku” goda Deden.  ” Mau kok mas aku nemani kamu” jawab Trialis.” Nanti ada yang marah? ” tanya Trialis. Tanpa disadari batupun menggelinding kebawah , ketika Deden bercanda dengan Trialis .

Sadar dengan kebodohannya, Slamet merasa tidak mampu mengikuti lomba yang diadakan oleh Kyai Bashit., ” Yang pinter-pinter aja tidak mampu mengikuti lomba, apa lagi aku yang bodoh ini” ungkap Slamet dalam batinnya. Namun ketika seluruh santri tidak mampu mengikuti dan memenangkan lomba, hati Slamet bergterak seakan menuntun dirinya untuk mengikuti lomba. Dalam kegamangannya  Slamet pulang sebentar kerumah orang tuanya yang kebetulan tidak jauh dari pesantren. Sesampainya di rumah , Slamet menceritakan kegiatan perlombaan yang diadakan oleh Kyai Bashit di pesantren. Sambil menangis dipangkuan ibunya, Slamet mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti lomba. ” Mak….! sebenarnya aku ingin mengikuti lomba” aku Slamet pada ibunya. “Namun Apa mungkin Ya Mak , aku bisa menang ? ” tanya Slamet sambil meminta dukungan emaknya. Sadar akan kebodohan anaknya, emaknya Slametpun ikut menangis. ” Coba saja nak, siapa tahu Alloh menolongmu” tegas emaknya Slamet. Sambil mengangkat kepalanya dan menyeka air mata yang membasahi pipinya, Slamet menatap wajah emaknya yang ikut menangis. ” Bangun lah nak…” suara lirih keluar dari mulut emak sambil menuntun  Slamet duduk disampingnya. “Cobalah nak, kapas ini, siapa tau bisa membantumu untuk menang dalam lomba”

Selang beberapa saat, setelah Samet menerima penjelasan dari ibunya, Slametpun bergegas menuju pesantren untuk mengikuti lomba. Namun apa yang terjadi, ketika  Slamet menyampaikan maksudnya untuk mengikuti lomba? Bukannya dukungan, namun cemoohan dari temannya. ” Yang pinter saja tidak mampu, apalagi kamu bodoh! ” cela Brodin seakan diamini oleh seluruh santri. ” Jangan begitu! siapa tau Slamet bisa berhasil ” Terang Kyai Bashit ke seluruh santri. ” Kamu mau ikut Lomba?” tanya Kyai pada Slamet ” Iya  Kyai” terang Slamet.

Ketika Kyai Bashit akan menggelindingkan batu, slamet menutup telinganya dengan kapas yang telah dibawa dari rumah. Sontak saja seluruh santri mentertawakan tingkah Slamet yang dianggapnya aneh. Setelah batu menggelinding, Slamet mengikuti dari belakang. Ketika didepan rumah Munjiat, Slamet di sapa Munjiat ” Mau kemana Mas Slamet?” tanya Munjiat. Namun Slamet tidak menjawab apalagi menoleh ke arah Munjiat karena tilinganya ditutup dengan kapas  sehingga tidak mendengar. Slametpun tetap mengikuti arah batu yang menggelinding meskipun di sapa oleh Saepul dan digoda oleh Trialis karena telinganya tertutup oleh kapas dan tidak  mendengar lagi. Dengan langkah pasti Slamet mengikuti kemana arah batu menggelinding, yang akhirnya batu berhenti di Sendang Kalimah Thoyyibah dan Slametpun berhasil mendapatkan Ma’ul Hayat.


Responses

  1. menanti arikel selanjutnya……

  2. menanti tulisan berikutnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: